hai sahabat islami, ini cerpen yang pertama siska masukan ke blog ini, yang mana insyaAllah akan dijadikan film pendek oleh +Fodamara TV on you tube..selamat membaca & jangan lupa like ya.. -
Meski tak setabah fatimah..
“aku mungkin tak setabah
fatimah azzahra dalam menghadapi segala kesulitan. Bahkan.. untuk menghapus
luka di hatiku dan hati kakak ku masih begitu sulit..”
Wajah nya
begitu dingin sesuai dengan warna pakaian nya yang gelap, raut wajah nya
menunjukan luka dihatinya, ya.. dialah fatimah anak dari tuan riza yang
terkenal akan ketaatannya dalam beribadah. Sikapnya yang begitu dingin, namun
cekatan seperti ibunya.Sedangkan gadis yang lembut parasnya, baik budinya,
serta senyuman selalu menghiasi wajahnya setiap hari itu adalah azzahra adik
fatimah. Meskipun begitu fatimah tak pernah memandang nya dengan kasih sayang,
melainkan dengan pandangan kebencian. Karena menurut fatimah dialah penyebab
kematian ibunya.
Tangan
fatimah begitu cekatan membersihkan meja yang ada di ruang tamu diiringi deru
sapu yang di ayun kan oleh zahra. Zahra sesekali melihat kakak nya, dia tahu
kakak nya sedang terlilit masalah. Ya.. karena kerusakan yang terjadi pada
handphone nya fatimah nekat meminjam uang dengan ari tetangga dekat rumah nya
dan juga preman di daerah rumahnya.
“apakah
handphone kakak sudah bagus?” tanya zahra dengan lembut namun fatimah tak
sedikit pun memalingkan wajahnya untuk menatap zahra.
“sudah”.
Jawab fatimah dingin, sedangkan tangannya masih mengayunkan kemoceng yang
membersihkan meja tamu nya.
“apa kakak
sudah membayarnya?” tanya zahra kembali
“belum”.jawab
nya dingin
“kak, kalau
kakak mau membayar nya gunakan saja uang ku” ucap zahra sembari mengeluarkan
beberepa lembar rupiah dari sakunya lau menatap fatimah lembut.
“tidak
perlu, aku bisa mengaturnya” tolak fatimah ketus.
“kak, kakak
pasti butuh ini...”
“tak perlu
!!! aku bilang tak perlu !!jangan mengatur segala urusan hidupku !” ujar
fatimah dengan keras lalu fatimah berlalu bahunya mendorong zahra sehingga
zahra tersungkur kelantai. Air mata mulai keluar dipelupik mata zahra bahkan
dia bertanya dalam hati kenapa kakak nya itu sangat tak menyukainya.
---ooOoo---
Fatimah
berjalan bak setrika, mondar-mandir tidak jelas di ruangan makan di rumah nya.
Matanya tidak sengaja melirik gulungan uang rupiah berwarna merah di atas meja
makan nya. Seketika pikiran nya melayang apakah yang akan terjadi jika dia
mengambi uang itu, disisi lain dia yakin itu pasti uang ayahnya. Jika dia bisa
mengambil uang itu pasti dia juga bisa melunasi hutangnya. “ apa aku ambil saja
uang itu?” gumam fatimah, ditangan nya kini sudah ada gulungan uang rupiah itu.
Tanpa disadari nya sepasang mata sedang mengamati nya dibalik dinding, ya.. zahra
melihat perbuatan kakak nya itu.
---ooOoo---
Bapak riza
mondar-mandir didapur rumahnya, dia melihat disekitaran lantai dan dibawah meja
makan. “aku yakin, aku meninggalkannya diatas ini” gumam ayah fatimah &
zahra itu.
Lalu
fatimah datang menghampiri ayahnya. Kerudung hitamnya bergoyang seakan ditiup
angin. “ayah? Ayah sedang mencari apa??” ujar fatimah dengan lembut, sisi lain
fatimah sangat menyayangi ayahnya ini yang sudah menggantikan ibunya untuk
membesarkan fatimah dan adiknya zahra.
“apa kamu melihat uang diatas meja
ini?” tanya ayahnya sembari mencari uangnya. Namun seketika juga wajah sang
fatimah berubah menjadi ketakutan “ti.. tidak, pasti ayah salah letak” ujar
fatimah. “tidak mungkin, ayah ingat sekali ayah meletaknya disini” ujar ayahnya
sembari menunjuk meja itu, lalu memandang wajah fatimah yang sama sendunya
dengan zahra. “fatimah tidak melihatnya.. coba ayah tanya pada zahra, kemarin
fatimah lihat dia yang membersihkan meja makan, dia juga seperti menemukan
sesuatu, mungkin itu uang ayah?” tungkas fatimah dengan kebohongan. “azzahra”
teriak ayahnya. “ya ayah” terdengar suara zahra dari kamar, zahra pun segera
menuju ketempat ayahnya dan kakaknya berada.
“apa kamu melihat uang ayah
disini?” ujar sang ayah sambil menunjuk kearah meja makan. “tidak” jawab zahra,
matanya melirik ke kakaknya, dia tahu ini perbuatan sang kakak “aku
melihatnya.. aku melihat kamu yang mengambil uang ayah” sambar fatimah. Azahra
seakan tidak percaya, kakaknya menuduh dia sebagai pencuri, sedangkan dia tidak
pernah melakukan hal itu.
“demi Allah ayah, zahra tidak
mengambil uang ayah” mata zahra mulai berkaca-kaca. Kakaknya menuduhnya,
sementara kekecewaan terlihat dimata ayah mereka, seumur hidup ayahnya tak
pernah mengajarkan mereka berdua untuk mengambil yang bukan haknya.
“zahra!!” sahut ayah dengan wajah
memerah, matanya berkaca tak percaya bahwa putri bungsunya mengambil uang itu.
Zahra hanya memandang ayahnya,
meyakinkan bahwa bukan dia yang mencurinya.
“masuk kekamarmu, renungkan apa
ayah ada mengajarkanmu untuk mengambil apa yang bukan menjadi hak mu?!!” berang
sang ayah.
Zahra berlari masuk kekamarnya,
tangisnya pecah seketika, dia terduduk lemas ditepi tempat tidurnya. Fatimah
membuka pintu menatap dingin adiknya, wajah penuh kebencian terlihat dipelupuk
matanya.
“kakak yang mengambilnya, kakak
yang mencuri uang ayahkan? Zahra melihatnya” ungkap zahra tersedu.
“benar, kenapa kamu tak
mengadukannya ke ayah?” ucap fatimah dengan mata yang menunjukkan kebencian.
Azzahra terdiam, membenamkan
wajahnya kekedua telapak tangannya.
“kamu ingin menjadi pahlawan?”
tangkas fatimah.
“kenapa kakak ngelakuin hal itu?
Padahal bukan zahra yang mencuri uang ayah, tapi kakak!” suara zahra meninggi
seketika berusaha menahan tangisannya. Suaranya tercekat tepat ditenggorokannya.
“karena aku benci denganmu, aku
benci, ibu meninggal karena harus melahirkanm, aku benci denganmu karena aku
kehilangan ibuku, semua luka yang ada dihatiku ini karena kamu, karena kamu
zahra!” suara fatimah meninggi memecahkan hening dan seketika semuanya kembali
hening. Air mata mengalir dimata zahra, lagi tenggorokanya tercekat tak percaya
itu semua keluar dari mulut kakaknya.
“itu semua bukan salahku!” jerit
zahra. Tangisnya seketika memecah. “itu semua kehendak Allah, setidaknya kakak
sudah pernah merasakan kehadiran ibu, pelukan ibu, kasih sayang ibu, tapi aku?
Bahkan untuk memeluk kakak saja aku sulit” tangkas zahra dengan semua hal itu.
Fatimah kembali menatap zahra
dingin, sgera dia keluar dari kamarnya berdiri didepan pintu dan bersandar, seketika
tubuh fatimah melemah, hingga fatimah terduduk didepan pintunya. Tangisnya
mulai pecah sementara zahra bersandar didalam kamarnya. Tangisnya tak berhenti
karena rasa sakit di hatinya.
“ibu... kak fatimah jahat...” kadu
zahra berharap ibunya akan mendengarnya dari syurga.
“ibu.. maafkan fatimah, fatimah
tidak bisa menjaga zahra” ujar fatimah dalam tangisnya.
---ooOoo---
Pagi itu
sungguh cerah, seorang wanita paruh baya bersama anak laki-lakinya datang
kerumah bapak riza, suara bel seakan bernyanyi dikediaman ayah fatimah dan
zahra. Fatimah membuka pintu, matanya yang memancarkan kebekuan berubah
seketika saat dia memandang seorang lelaki berparas lembut, dengan cahaya
dimata hitamnya tubuh bidangnya telah memikat hati fatimah, namun fatimah tak
menyadari bahwa lelaki itu sudah lebih dahulu mengenal zahra. Lelaki itu adalah
azzam.
“assalamualaikum, ayah mu ada?”
ujar wanita paruh baya itu, namun mata fatimah tetap memandang lelaki itu.
“maaf?” tangkas wanita itu hingga
memecahkan khayalan fatimah.
“ya, waalaikumussalam. Ayah ada,
kalau boleh saya tau ibu siapa ya dan ada perlu apa dengan ayah saya?” ujar
fatimah. Sekali-kali matanya melirik azzam, azzam tersenyum, melainkan bukan
untuk fatimah tetapi untuk wanita yang baru saja datang dan berdiri dibelakang fatimah,
ya, senyumannya untuk zahra.
“saya linda dan ini anak laki-laki
saya. Kami kesini untuk menemui ayah kamu dan juga..”
“oh, ayah ada. Sebentar saya
panggilkan.” Potong fatimah “ayo silahkan masuk” lanjut fatimah.
Fatimah berlari menuju kamar ayahnya,
dia mengetuk pintu kamar ayahnya senyumannya mengikuti wajah dinginnya,
sementara zahra menyiapkan minuman untuk tamu mereka.
Ayah keluar dari kamarnya,
memandang wajah fatimah. Dia tersenyum, terlihat garis kerutan didahinya,
kulitnya kini mulai keriput, rambutnya mulai memutih sgera ditutupi dengan peci
hitamya.
“ada apa fatimah?” tanya ayahnya.
“kita kedatangan seorang tamu yah,
seorang wanita paruh baya bersama anak lelakinya, mereka datang mencari ayah”
jawab fatimah dengan mata yang berbinar, senyuman mulai menghiasi wajahnya.
“siapa mereka? Dan untuk apa mereka
kesini?” tanya bapak riza dengan bingung, keningnya mengerut.
“dia adalah temanku, dia datang
bersama ibunya untuk menjumpai ayah. Namanya adalah azzam.” Ujar zahra
tiba-tiba, sebuah nampan kosong digenggam olehnya, lalu ia beranjak kedapur dan
meletakkan nampan itu ketempatnya.
“azzam?” tungkas fatimah. Sekali
lagi senyumnya menghiasi wajahnya. “apa mungkin mereka datang untuk melamar?”
kata zahra dengan mata yang berbinar. Sang ayah yang melihat wajah putrinya itu
tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dia tahu bahwa putrinya itu kini sedang
jatuh hati.
“melamar?” ujar sang ayah.
“ayah, bila mereka ingin melamar
katakan saja untuk melamarku, aku menyukai pria itu.” Ujar fatimah kembali tersenyum.
Zahra yang mendengarnya dengan
seketika wajahnya berubah menjadi sedih, karena dia tahu bahwa azzam datang
untuk melamar dirinya, lalu bagaimana bila kakaknya mengetahui hal itu. Ayah
pergi keruang tamu menjumpai sang tamunya dia mempersilahkan tamunya untuk
minum lalu membuka pembicaraan.
“maaf sebelumnya apa niat ibuk dan
anak ibuk untuk datang kemari?”. Tanya tuan riza dengan nada sopan. Fatimah dan
zahra menghampiri mereka di ruang tamu duduk di sofa sudut ruang tamu mereka.
“sebelumnya perkenalkan saya Linda
dan ini putra saya Azzam.” Ujar wanita itu matanya sesekali melirik ke arah
zahra, sementar zahra tertunduk tapi bukan tertunduk malu melainkan sedang
gundah kakak nya sedang jatuh hati terhadap azzam sedangkan sesungguhnya azzam
ingin melamar zahra.
“niat kami sebenarnya ingin melamar
anak bapak.” Tungkas azzam lalu melirik zahra yang masih tertunduk.
“oh jika begitu silahkan lamar
putri sulung saya fatimah.” Kedua tamu itu saling berpandangan.
“maaf saya ingin melamar zahra.”
Ungkap azzam seketika. Sontak zahra yang sedang tertunduk mendongakan kepalanya
lalu melihat kakak nya, wajah fatimah mulai melihatkan kebencian kembali, sang
ayah hanya terdiam memandang fatimah cinta tak akan bisa untuk dipaksakan.
Seketika fatimah berdiri lalu meninggalkan ruang tamunya tanpa memperdulikan
sang tamu, zahra mengejar fatimah lalu menarik tangannya.
“kak, Azzam pasti salah menyebutkan
nama dia ingin melamar kakak.” Ujar zahra, fatimah menepis tangan zahra kasar.
“kamu pikir aku tuli ha?! Aku dengar
dia menyebutkan nama mu!.” Suara fatimah meninggi saat itu sontak membuat ayah
dan para tamunya mendatangi mereka. Air mata zahra terlihat di pelupuk mata nya
tetpi zahra berusaha menahannya. Azzam yang melihat kejadian itu hanya membisu.
“ azzam, katakan kepada ku kalau
kamu sebenarnya ingin melamar kakak ku kan?” tanya zahra ke azzam, mata zahra
berkaca-kaca memandang azzam namun azzam hanya menunduk kan kepala nya dan
menggeleng, zahra mundur selangkah air matanya mulai menetes.
“CUKUP!!!” teriak fatimah geram,
nafasnya mulai tak beraturan.
“kamu bahagia? Kamu senang?! Kamu
suka ? melihat aku seperti ini ?! setelah membuat ibuku meninggal sekarang kamu
akan kembali mengambil kebahagiaan ku ha?!” lanjut fatimah nada suaranya mulai
meninggi, kebenciannya mulai memuncak, dia terus memandang zahra yang sudah
mulai menangis.
“fatimah !!, ini semua kehendak
Allah nak, ibu mu meninggal itu semua kehendak Allah nak. Sudah berapa kali
ayah mengatakan nya pada mu?” ujar sang ayah dadanya terasa nyeri mendengar kata-kata
anak sulung nya itu.
“TIDAK !! itu semua salah zahra,
karena harus melahirkan dia ibuku meninggal, karena dia aku tidak bisa lagi
memeluk ibu ku, aku kehilangan ! aku iri melihat mereka yang pergi keluar
dengan ibunya memasak bersama ibunya sementara aku?! Ini semua salah zahra !”
sahut fatimah tajam lalu dia memandang ayah nya yang sudah tua matanya berkaca-kaca dia tak dapat membendung
air matanya lagi, fatimah berlalu masuk ke kamar nya suasana berubah menjadi
hening seketika hanya tangisan zahra yang masih terdengar. Fatimah keluar dari
kamar nya sembari membawa koper dia akan meninggal kan rumah itu, zahra yang
melihat itu kembali mengejarnya namun fatimah tak memperdulikan nya dan terus
berjalan menuju pagar rumah nya. Zahara mulai lelah menghadapi nya tangisannya
sama sekali tak meluluhkan hati kakak nya yang beku itu.
“DEMI ALLAH!!. Ini semua kehendak
Allah, jika aku boleh memilihh biarlah aku tidak terlahir di dunia ini agar ibu
tetap ada disamping mu.” Kata zahra tersendu-sendu.
“dan DEMI ALLAh !!. meskipun kakak
selalu menyakitiku, tak ada rasa dendam ku pada kakak, bahkan aku tak akan rela
bila orang lain menyakiti mu, jika ada yang berusaha melukaimu aku akan
mlindungi mu karena bagiku sehelai rambut mu adalah setetes darahku.” Lanjut nya
kembali, fatimah terdiam mematung mendengar kata-kata adik nya itu, air mata
nya jatuh begitu deras, tenggorokan nya tercekat ya ini semua kehendak Allah
lantas kenapa aku selalu menyalah kan dia batin fatimah.
“Fatimah....” panggil ayah nya
lembut, tuan riza memegang dadanya yang tersa nyeri. Fatimah membalikan
tubuhnya memandang sang ayah dan adik nya, dia melepaskan koper yang di genggam
nya lalu berjalan menuju zahra. Zahra mengira kakak nya kali ini akan menampar
nya tapi sang kakak menarik tangan sang adik lalu memeluk erat zahra, air mata
nya kembali mengalir.
“DEMI ALLAH, cukup sudah aku
menyakiti mu, melukai mu, menyalahkan mu. Tak akan ada lagi yang akan menyakiti
mu, jika ada aku yang akan melindungi mu, nyawaku taruhan nya bukan kah sehelai
rambutku adalah setetes darah mu? Kau pun begitu bagiku.” Ujar fatimah lembut
dia tetap mendekap sang adik nya tangis haru memecah dari zahra.
“kak.. ini pertama kali kakak
mendekap ku seperti ini, aku bahagia.” Ujar zahra.
“ini tidak akan menjadi yang
terakhir untuk mu, setiap hari aku akan mendekap mu seperti ini, setiap hari...
aku janji..” balas fatimah. Kejadian itu adalah kejadian yang sangat berharga
buat zahra terutama untuk sang ayah, putri sulung nya kini sudah bisa menerima
kenyataan. Lalu fatimah membawa kembali kopernya dan kembali masuk ke kediaman
mereka bersama sang calon suami zahra, Azzam.
--oooOooo—
“kami mungkin tak bisa setegar
Fatimah Azzahra, tapi kenapa orang tua kami memberikan itu kepada kami agar
kami mencontohi sang FATIMAH AZZAHRA, putri sang Rasulullah.”
- terima kasih sudah membaca cerpern ini, kritik dan saran sangat dibutuhkan agar cerpen nya menjadi lebih baik lagi ^_^ -
by: siska marlina