Senin, 04 April 2016

Meski Tak Setabah Fatimah (pengarang: siska marlina.I)



hai sahabat islami, ini cerpen yang pertama siska masukan ke blog ini, yang mana insyaAllah akan dijadikan film pendek oleh +Fodamara TV on you tube..selamat membaca & jangan lupa like ya.. -

Meski tak setabah fatimah..

aku mungkin tak setabah fatimah azzahra dalam menghadapi segala kesulitan. Bahkan.. untuk menghapus luka di hatiku dan hati kakak ku masih begitu sulit..”
Wajah nya begitu dingin sesuai dengan warna pakaian nya yang gelap, raut wajah nya menunjukan luka dihatinya, ya.. dialah fatimah anak dari tuan riza yang terkenal akan ketaatannya dalam beribadah. Sikapnya yang begitu dingin, namun cekatan seperti ibunya.Sedangkan gadis yang lembut parasnya, baik budinya, serta senyuman selalu menghiasi wajahnya setiap hari itu adalah azzahra adik fatimah. Meskipun begitu fatimah tak pernah memandang nya dengan kasih sayang, melainkan dengan pandangan kebencian. Karena menurut fatimah dialah penyebab kematian ibunya.
Tangan fatimah begitu cekatan membersihkan meja yang ada di ruang tamu diiringi deru sapu yang di ayun kan oleh zahra. Zahra sesekali melihat kakak nya, dia tahu kakak nya sedang terlilit masalah. Ya.. karena kerusakan yang terjadi pada handphone nya fatimah nekat meminjam uang dengan ari tetangga dekat rumah nya dan juga preman di daerah rumahnya.
“apakah handphone kakak sudah bagus?” tanya zahra dengan lembut namun fatimah tak sedikit pun memalingkan wajahnya untuk menatap zahra.
“sudah”. Jawab fatimah dingin, sedangkan tangannya masih mengayunkan kemoceng yang membersihkan meja tamu nya.
“apa kakak sudah membayarnya?” tanya zahra kembali
“belum”.jawab nya dingin
“kak, kalau kakak mau membayar nya gunakan saja uang ku” ucap zahra sembari mengeluarkan beberepa lembar rupiah dari sakunya lau menatap fatimah lembut.
“tidak perlu, aku bisa mengaturnya” tolak fatimah ketus.
“kak, kakak pasti butuh ini...”
“tak perlu !!! aku bilang tak perlu !!jangan mengatur segala urusan hidupku !” ujar fatimah dengan keras lalu fatimah berlalu bahunya mendorong zahra sehingga zahra tersungkur kelantai. Air mata mulai keluar dipelupik mata zahra bahkan dia bertanya dalam hati kenapa kakak nya itu sangat tak menyukainya.
---ooOoo---
     Fatimah berjalan bak setrika, mondar-mandir tidak jelas di ruangan makan di rumah nya. Matanya tidak sengaja melirik gulungan uang rupiah berwarna merah di atas meja makan nya. Seketika pikiran nya melayang apakah yang akan terjadi jika dia mengambi uang itu, disisi lain dia yakin itu pasti uang ayahnya. Jika dia bisa mengambil uang itu pasti dia juga bisa melunasi hutangnya. “ apa aku ambil saja uang itu?” gumam fatimah, ditangan nya kini sudah ada gulungan uang rupiah itu. Tanpa disadari nya sepasang mata sedang mengamati nya dibalik dinding, ya.. zahra melihat perbuatan kakak nya itu.
---ooOoo---
Bapak riza mondar-mandir didapur rumahnya, dia melihat disekitaran lantai dan dibawah meja makan. “aku yakin, aku meninggalkannya diatas ini” gumam ayah fatimah & zahra itu.
Lalu fatimah datang menghampiri ayahnya. Kerudung hitamnya bergoyang seakan ditiup angin. “ayah? Ayah sedang mencari apa??” ujar fatimah dengan lembut, sisi lain fatimah sangat menyayangi ayahnya ini yang sudah menggantikan ibunya untuk membesarkan fatimah dan adiknya zahra.
“apa kamu melihat uang diatas meja ini?” tanya ayahnya sembari mencari uangnya. Namun seketika juga wajah sang fatimah berubah menjadi ketakutan “ti.. tidak, pasti ayah salah letak” ujar fatimah. “tidak mungkin, ayah ingat sekali ayah meletaknya disini” ujar ayahnya sembari menunjuk meja itu, lalu memandang wajah fatimah yang sama sendunya dengan zahra. “fatimah tidak melihatnya.. coba ayah tanya pada zahra, kemarin fatimah lihat dia yang membersihkan meja makan, dia juga seperti menemukan sesuatu, mungkin itu uang ayah?” tungkas fatimah dengan kebohongan. “azzahra” teriak ayahnya. “ya ayah” terdengar suara zahra dari kamar, zahra pun segera menuju ketempat ayahnya dan kakaknya berada.
“apa kamu melihat uang ayah disini?” ujar sang ayah sambil menunjuk kearah meja makan. “tidak” jawab zahra, matanya melirik ke kakaknya, dia tahu ini perbuatan sang kakak “aku melihatnya.. aku melihat kamu yang mengambil uang ayah” sambar fatimah. Azahra seakan tidak percaya, kakaknya menuduh dia sebagai pencuri, sedangkan dia tidak pernah melakukan hal itu.
“demi Allah ayah, zahra tidak mengambil uang ayah” mata zahra mulai berkaca-kaca. Kakaknya menuduhnya, sementara kekecewaan terlihat dimata ayah mereka, seumur hidup ayahnya tak pernah mengajarkan mereka berdua untuk mengambil yang bukan haknya.
“zahra!!” sahut ayah dengan wajah memerah, matanya berkaca tak percaya bahwa putri bungsunya mengambil uang itu.
Zahra hanya memandang ayahnya, meyakinkan bahwa bukan dia yang mencurinya.
“masuk kekamarmu, renungkan apa ayah ada mengajarkanmu untuk mengambil apa yang bukan menjadi hak mu?!!” berang sang ayah.
Zahra berlari masuk kekamarnya, tangisnya pecah seketika, dia terduduk lemas ditepi tempat tidurnya. Fatimah membuka pintu menatap dingin adiknya, wajah penuh kebencian terlihat dipelupuk matanya.
“kakak yang mengambilnya, kakak yang mencuri uang ayahkan? Zahra melihatnya” ungkap zahra tersedu.
“benar, kenapa kamu tak mengadukannya ke ayah?” ucap fatimah dengan mata yang menunjukkan kebencian.
Azzahra terdiam, membenamkan wajahnya kekedua telapak tangannya.
“kamu ingin menjadi pahlawan?” tangkas fatimah.
“kenapa kakak ngelakuin hal itu? Padahal bukan zahra yang mencuri uang ayah, tapi kakak!” suara zahra meninggi seketika berusaha menahan tangisannya. Suaranya tercekat tepat ditenggorokannya.
“karena aku benci denganmu, aku benci, ibu meninggal karena harus melahirkanm, aku benci denganmu karena aku kehilangan ibuku, semua luka yang ada dihatiku ini karena kamu, karena kamu zahra!” suara fatimah meninggi memecahkan hening dan seketika semuanya kembali hening. Air mata mengalir dimata zahra, lagi tenggorokanya tercekat tak percaya itu semua keluar dari mulut kakaknya.
“itu semua bukan salahku!” jerit zahra. Tangisnya seketika memecah. “itu semua kehendak Allah, setidaknya kakak sudah pernah merasakan kehadiran ibu, pelukan ibu, kasih sayang ibu, tapi aku? Bahkan untuk memeluk kakak saja aku sulit” tangkas zahra dengan semua hal itu.
Fatimah kembali menatap zahra dingin, sgera dia keluar dari kamarnya berdiri didepan pintu dan bersandar, seketika tubuh fatimah melemah, hingga fatimah terduduk didepan pintunya. Tangisnya mulai pecah sementara zahra bersandar didalam kamarnya. Tangisnya tak berhenti karena rasa sakit di hatinya.
“ibu... kak fatimah jahat...” kadu zahra berharap ibunya akan mendengarnya dari syurga.
“ibu.. maafkan fatimah, fatimah tidak bisa menjaga zahra” ujar fatimah dalam tangisnya.
---ooOoo---
Pagi itu sungguh cerah, seorang wanita paruh baya bersama anak laki-lakinya datang kerumah bapak riza, suara bel seakan bernyanyi dikediaman ayah fatimah dan zahra. Fatimah membuka pintu, matanya yang memancarkan kebekuan berubah seketika saat dia memandang seorang lelaki berparas lembut, dengan cahaya dimata hitamnya tubuh bidangnya telah memikat hati fatimah, namun fatimah tak menyadari bahwa lelaki itu sudah lebih dahulu mengenal zahra. Lelaki itu adalah azzam.
“assalamualaikum, ayah mu ada?” ujar wanita paruh baya itu, namun mata fatimah tetap memandang lelaki itu.
“maaf?” tangkas wanita itu hingga memecahkan khayalan fatimah.
“ya, waalaikumussalam. Ayah ada, kalau boleh saya tau ibu siapa ya dan ada perlu apa dengan ayah saya?” ujar fatimah. Sekali-kali matanya melirik azzam, azzam tersenyum, melainkan bukan untuk fatimah tetapi untuk wanita yang baru saja datang dan berdiri dibelakang fatimah, ya, senyumannya untuk zahra.
“saya linda dan ini anak laki-laki saya. Kami kesini untuk menemui ayah kamu dan juga..”
“oh, ayah ada. Sebentar saya panggilkan.” Potong fatimah “ayo silahkan masuk” lanjut fatimah.
Fatimah berlari menuju kamar ayahnya, dia mengetuk pintu kamar ayahnya senyumannya mengikuti wajah dinginnya, sementara zahra menyiapkan minuman untuk tamu mereka.
Ayah keluar dari kamarnya, memandang wajah fatimah. Dia tersenyum, terlihat garis kerutan didahinya, kulitnya kini mulai keriput, rambutnya mulai memutih sgera ditutupi dengan peci hitamya.
“ada apa fatimah?” tanya ayahnya.
“kita kedatangan seorang tamu yah, seorang wanita paruh baya bersama anak lelakinya, mereka datang mencari ayah” jawab fatimah dengan mata yang berbinar, senyuman mulai menghiasi wajahnya.
“siapa mereka? Dan untuk apa mereka kesini?” tanya bapak riza dengan bingung, keningnya mengerut.
“dia adalah temanku, dia datang bersama ibunya untuk menjumpai ayah. Namanya adalah azzam.” Ujar zahra tiba-tiba, sebuah nampan kosong digenggam olehnya, lalu ia beranjak kedapur dan meletakkan nampan itu ketempatnya.
“azzam?” tungkas fatimah. Sekali lagi senyumnya menghiasi wajahnya. “apa mungkin mereka datang untuk melamar?” kata zahra dengan mata yang berbinar. Sang ayah yang melihat wajah putrinya itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dia tahu bahwa putrinya itu kini sedang jatuh hati.
“melamar?” ujar sang ayah.
“ayah, bila mereka ingin melamar katakan saja untuk melamarku, aku menyukai pria itu.” Ujar fatimah kembali tersenyum.
Zahra yang mendengarnya dengan seketika wajahnya berubah menjadi sedih, karena dia tahu bahwa azzam datang untuk melamar dirinya, lalu bagaimana bila kakaknya mengetahui hal itu. Ayah pergi keruang tamu menjumpai sang tamunya dia mempersilahkan tamunya untuk minum lalu membuka pembicaraan.
“maaf sebelumnya apa niat ibuk dan anak ibuk untuk datang kemari?”. Tanya tuan riza dengan nada sopan. Fatimah dan zahra menghampiri mereka di ruang tamu duduk di sofa sudut ruang tamu mereka.
“sebelumnya perkenalkan saya Linda dan ini putra saya Azzam.” Ujar wanita itu matanya sesekali melirik ke arah zahra, sementar zahra tertunduk tapi bukan tertunduk malu melainkan sedang gundah kakak nya sedang jatuh hati terhadap azzam sedangkan sesungguhnya azzam ingin melamar zahra.
“niat kami sebenarnya ingin melamar anak bapak.” Tungkas azzam lalu melirik zahra yang masih tertunduk.
“oh jika begitu silahkan lamar putri sulung saya fatimah.” Kedua tamu itu saling berpandangan.
“maaf saya ingin melamar zahra.” Ungkap azzam seketika. Sontak zahra yang sedang tertunduk mendongakan kepalanya lalu melihat kakak nya, wajah fatimah mulai melihatkan kebencian kembali, sang ayah hanya terdiam memandang fatimah cinta tak akan bisa untuk dipaksakan. Seketika fatimah berdiri lalu meninggalkan ruang tamunya tanpa memperdulikan sang tamu, zahra mengejar fatimah lalu menarik tangannya.
“kak, Azzam pasti salah menyebutkan nama dia ingin melamar kakak.” Ujar zahra, fatimah menepis tangan zahra kasar.
“kamu pikir aku tuli ha?! Aku dengar dia menyebutkan nama mu!.” Suara fatimah meninggi saat itu sontak membuat ayah dan para tamunya mendatangi mereka. Air mata zahra terlihat di pelupuk mata nya tetpi zahra berusaha menahannya. Azzam yang melihat kejadian itu hanya membisu.
“ azzam, katakan kepada ku kalau kamu sebenarnya ingin melamar kakak ku kan?” tanya zahra ke azzam, mata zahra berkaca-kaca memandang azzam namun azzam hanya menunduk kan kepala nya dan menggeleng, zahra mundur selangkah air matanya mulai menetes.
“CUKUP!!!” teriak fatimah geram, nafasnya mulai tak beraturan.
“kamu bahagia? Kamu senang?! Kamu suka ? melihat aku seperti ini ?! setelah membuat ibuku meninggal sekarang kamu akan kembali mengambil kebahagiaan ku ha?!” lanjut fatimah nada suaranya mulai meninggi, kebenciannya mulai memuncak, dia terus memandang zahra yang sudah mulai menangis.
“fatimah !!, ini semua kehendak Allah nak, ibu mu meninggal itu semua kehendak Allah nak. Sudah berapa kali ayah mengatakan nya pada mu?” ujar sang ayah dadanya terasa nyeri mendengar kata-kata anak sulung nya itu.
“TIDAK !! itu semua salah zahra, karena harus melahirkan dia ibuku meninggal, karena dia aku tidak bisa lagi memeluk ibu ku, aku kehilangan ! aku iri melihat mereka yang pergi keluar dengan ibunya memasak bersama ibunya sementara aku?! Ini semua salah zahra !” sahut fatimah tajam lalu dia memandang ayah nya yang sudah tua  matanya berkaca-kaca dia tak dapat membendung air matanya lagi, fatimah berlalu masuk ke kamar nya suasana berubah menjadi hening seketika hanya tangisan zahra yang masih terdengar. Fatimah keluar dari kamar nya sembari membawa koper dia akan meninggal kan rumah itu, zahra yang melihat itu kembali mengejarnya namun fatimah tak memperdulikan nya dan terus berjalan menuju pagar rumah nya. Zahara mulai lelah menghadapi nya tangisannya sama sekali tak meluluhkan hati kakak nya yang beku itu.
“DEMI ALLAH!!. Ini semua kehendak Allah, jika aku boleh memilihh biarlah aku tidak terlahir di dunia ini agar ibu tetap ada disamping mu.” Kata zahra tersendu-sendu.
“dan DEMI ALLAh !!. meskipun kakak selalu menyakitiku, tak ada rasa dendam ku pada kakak, bahkan aku tak akan rela bila orang lain menyakiti mu, jika ada yang berusaha melukaimu aku akan mlindungi mu karena bagiku sehelai rambut mu adalah setetes darahku.” Lanjut nya kembali, fatimah terdiam mematung mendengar kata-kata adik nya itu, air mata nya jatuh begitu deras, tenggorokan nya tercekat ya ini semua kehendak Allah lantas kenapa aku selalu menyalah kan dia batin fatimah.
“Fatimah....” panggil ayah nya lembut, tuan riza memegang dadanya yang tersa nyeri. Fatimah membalikan tubuhnya memandang sang ayah dan adik nya, dia melepaskan koper yang di genggam nya lalu berjalan menuju zahra. Zahra mengira kakak nya kali ini akan menampar nya tapi sang kakak menarik tangan sang adik lalu memeluk erat zahra, air mata nya kembali mengalir.
“DEMI ALLAH, cukup sudah aku menyakiti mu, melukai mu, menyalahkan mu. Tak akan ada lagi yang akan menyakiti mu, jika ada aku yang akan melindungi mu, nyawaku taruhan nya bukan kah sehelai rambutku adalah setetes darah mu? Kau pun begitu bagiku.” Ujar fatimah lembut dia tetap mendekap sang adik nya tangis haru memecah dari zahra.
“kak.. ini pertama kali kakak mendekap ku seperti ini, aku bahagia.” Ujar zahra.
“ini tidak akan menjadi yang terakhir untuk mu, setiap hari aku akan mendekap mu seperti ini, setiap hari... aku janji..” balas fatimah. Kejadian itu adalah kejadian yang sangat berharga buat zahra terutama untuk sang ayah, putri sulung nya kini sudah bisa menerima kenyataan. Lalu fatimah membawa kembali kopernya dan kembali masuk ke kediaman mereka bersama sang calon suami zahra, Azzam.
--oooOooo—
“kami mungkin tak bisa setegar Fatimah Azzahra, tapi kenapa orang tua kami memberikan itu kepada kami agar kami mencontohi sang FATIMAH AZZAHRA, putri sang Rasulullah.”



- terima kasih sudah membaca cerpern ini, kritik dan saran sangat dibutuhkan agar cerpen nya menjadi lebih baik lagi ^_^ -

by: siska marlina